Kembali ke Blog
Umum

Di Balik Dentuman Sound Horeg: Ketika Hiburan Rakyat Berujung Kerugian Materiil dan Korban Jiwa

21 Sep 2026 6 Views
Di Balik Dentuman Sound Horeg: Ketika Hiburan Rakyat Berujung Kerugian Materiil dan Korban Jiwa

Fenomena sound horeg—parade truk bermuatan tumpukan pengeras suara berdaya puluhan ribu watt—telah bermutasi dari sekadar ekspresi pesta rakyat menjadi sumber keresahan publik. Dentuman frekuensi rendah (sub-bass) yang digadang-gadang memompa adrenalin penonton kini menghadapi gelombang evaluasi ketat dari regulator, aparat penegak hukum, dan kalangan medis. Di balik euforia suara menggelegar, tersimpan catatan kerusakan bangunan, konflik horizontal, hingga jatuhnya korban jiwa.


Tekanan Akustik: Ancaman Tak Kasat Mata bagi Kesehatan

Tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh perangkat sound horeg tercatat berada pada rentang 115 hingga 135 desibel (dB) pada jarak dekat. Angka ini jauh melampaui batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 85 dB dengan durasi maksimal 8 jam.

Paparan suara ekstrem tersebut setara dengan berdiri tepat di samping mesin jet saat lepas landas. Secara medis, intensitas ini memicu dampak sistemik:

  • Trauma Akustik & Gangguan Pendengaran: Kerusakan permanen pada sel rambut silia di dalam rumah siput (koklea), memicu tinnitus kronis hingga ketulian mendadak.
  • Resonansi Kardiovaskular: Gelombang frekuensi rendah di bawah 100 Hz mampu memicu getaran mekanis pada rongga dada. Kondisi ini berbahaya bagi kelompok rentan, lansia, atau pengidap penyakit jantung karena dapat memicu aritmia akut dan gagal napas.

Catatan Fatalitas: Korban Jiwa di Jalur Parade

Eskalasi bahaya sound horeg tercermin dari rentetan insiden fatal yang terjadi di berbagai daerah:

  1. Runtuhnya Struktur Bangunan: Di Jember, seorang pria lanjut usia meninggal dunia setelah tertimpa kanopi tembok bangunan apotek yang ambruk mendadak tepat saat arak-arakan truk sound horeg melintas di depan lokasi.
  2. Serangan Jantung Mendadak: Di Lumajang dan Banyuwangi, penonton dan peserta dilaporkan kolaps akibat syok kardiak dan kelelahan saat berada di sekitar radius dentuman suara.
  3. Kecelakaan Teknis Armada: Di beberapa lintasan desa, kru pengangkut peralatan tewas akibat benturan dengan pembatas jalan atau gapura desa karena berada di atas atap truk yang melaju dengan muatan setinggi 4 hingga 5 meter.

Kerusakan Infrastruktur dan Beban Sosial Ekonomi

Dampak materiil yang dirasakan warga di lintasan karnaval mencakup dua hal:

  • Kerusakan Fisik Bangunan: Resonansi getaran frekuensi rendah kerap membuat kaca rumah warga pecah, genting melorot, dan dinding plesteran retak. Tidak jarang, pembatas jalan, ranting pohon pelindung, hingga atap kanopi toko warga sengaja dibongkar oleh panitia atau rombongan demi memberi ruang melintasnya armada truk raksasa.
  • Beban Finansial Warga: Biaya sewa satu paket sound system premium berkisar antara Rp20 juta hingga lebih dari Rp50 juta per unit truk. Biaya ini kerap dibebankan kepada warga desa melalui tarikan iuran wajib yang sering kali memicu gesekan sosial antartetangga, terutama bagi keluarga yang keberatan secara ekonomi.

Desakan Regulasi dan Batasan Operasional

Melihat meluasnya dampak destruktif, sejumlah pemerintah daerah bersama Kepolisian Daerah Jawa Timur mulai memberlakukan pembatasan tegas, antara lain:

  • Batas Maksimal Kebisingan: Pembatasan intensitas suara di area permukiman hingga ambang batas maksimal 60–85 dB.
  • Zonasi & Larangan Jalur: Mensterilkan jalur parade dari fasilitas vital seperti rumah sakit, klinik, sekolah, dan rumah ibadah.
  • Standardisasi Kendaraan: Pembatasan dimensi tinggi muatan dan bobot armada truk untuk mencegah korsleting kabel listrik saluran atas serta kecelakaan lalu lintas.
  • Pertimbangan Fatwa: Di beberapa daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat kabupaten telah mengeluarkan imbauan serta kajian fatwa mudarat terhadap sound horeg jika kegiatan tersebut nyata-nyata merusak hak hidup dan kenyamanan publik.

Tradisi perayaan dan hiburan rakyat sejatinya merupakan medium perekat sosial. Namun, ketika dentuman suara mulai merenggut kenyamanan, merusak hunian, dan mengancam nyawa, evaluasi dan penegakan regulasi menjadi batas mutlak yang tidak dapat ditawar lagi.


#SoundHoreg #EvaluasiSoundHoreg #KetertibanUmum #KarnavalJatim #KeselamatanPublik #DampakKebisingan #RegulasiSoundSystem

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

J

Jana Slagle

1 month ago

Greetings Add kodepia.com in Google's Search Index and have it be visible in Google search results! Add kodepia.com now: searchregister.pro

Artikel Terkait Lainnya